Shinee - Taemin

CONTOH PROPOSAL PTK:

“ MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS SASTRA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PAKEM PADA SISWA KELAS VII¹
SMP NEGERI 18 KENDARI”




   
OLEH

       MARTA      
A1D1 08 046





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran bahasa pada umumnya dirumuskan empat keterampilan berbahasa yaitu membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Keempat keterampilan berbahasa tersebut diintegrasikan dalam komponen standar isi dan kempotensi dasar. Hal ini diharapkan keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut dapat dimiliki oleh siswa baik untuk aspek kebahasaan maupun kesastraan. Dan salah satu keterampilan bahasa yang paling penting diantara komponen tersebut adalah keterampilan membaca.
Membaca menduduki posisi yang sangat penting dalam konteks kehidupan umat manusia. Membaca juga merupakan jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan, baik di dunia pendidikan maupun di dunia pekerjaan. Kemahiran dan minat baca seseorang tidak akan terjadi dengan sendirinya, perlu suatu upaya terutama dari kalangan pendidikan. Selain itu, dari lingkungan keluarga sebagai lingkungan terdekat yang dapat melatih, memupuk, membina, dan meningkatkan kemahiran membaca mereka. Tugas ini tentunya merupakan bagian dari tugas guru. Pada umumnya, para pemerhati pendidikan berpendapat bahwa membaca itu jantungnya pendidikan. Mampu membaca berarti memiliki kekuatan yang sanggup mengungguli kekuatan fisik apapun yang bisa dihimpun manusia. Dengan demikian peran membaca dalam keberhasilan studi seseorang tampaknya tak perlu kita sangsikan lagi (Harjasujana, 1996: 164).
Dalam melakukan proses membaca, ada beberapa obyek yang bisa di baca oleh setiap pembaca dan salah satunya yakni membaca teks. Membaca teks dapat dikategorikan menjadi dua kategori, yakni membaca teks nonsastra dan membaca teks sastra. Teks sastra adalah karangan yang berisi cerita rekaan dengan bahasa, gaya, dan citra rasa yang indah. Cerita-cerita yang dinyatakan lebih bersifat sedangkan teks non sastra adalah teks atau bacaan yang berisi kejadian yang sesungguhnya yang ada dalam masyarakat. Teks atau karangan tersebut bisa membicarakan masalah sehari-hari, masalah yang berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu, atau mengupas beragam persoalan dalam berbagai kepentingan pembacanya dinyatakan secara khusus (surat).
Membaca teks sastra termasuk dalam standar kompetensi pada silabus SMP kelas VII semester II. Membaca merupakan kegiatan paling awal dalam interpretasi atau pemberian makna teks sastra. Untuk itu, diperlukan upaya peningkatan pembelajaran dalam hal membaca teks sastra. Artinya, kebiasaan membaca teks sastra dapat dijadikan sebagai salah satu keterampilan diri dalam memahami bahan bacaan khususnya bacaan-bacaan yang bergenre sastra. Peningkatan pembelajaran bisa dilakukan melalui cara atau metode yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan agar siswa lebih bisa menerima pelajaran dengan baik, salah satunya dengan penggunaan model pembelajaran PAKEM. Model pembelajaran PAKEM merupakan akronim dari  Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
Kegiatan yang tepat untuk dilakukan selain mengarahkan pelaksanaan pembelajaran keterampilan bahasa, seorang guru juga mengefektifkan dan mengefisiensikan pembelajaran keterampilan bahasa seperti, keterampilan membaca teks sastra bagi siswa di sekolah-sekolah menengah pertama dan tidak terkecuali siswa di SMP Negeri 18 Kendari. Selain itu, materi keterampilan membaca sastra dalam bentuk teks yang memerlukan tafsiran atau analisis secara cermat dan mendalam terutama dalam menentukan pesan, gagasan, pokok pikiran maupun istilah-istilah yang terdapat dalam teks sastra. Hal ini, tentunya memerlukan kemampuan siswa dalam memahami ragam teks sastra yang diberikan oleh guru.
1.2    Rumusan Masalah
Adapun masalah dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan kemampuan membaca teks sastra siswa kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari?
1.3    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca teks sastra siswa kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM.
1.4    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah. Adapun manfaat penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1.    Bagi siswa    : Siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca teks sastra.
2.    Bagi guru     : Dapat menjadi acuan peningkatan kemampuan membaca teks sastra dan  dapat memperbaiki proses pembelajaran di kelas.
3.    Bagi sekolah   :     Dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan metode pembelajaran yang telah digunakan di sekolah, sehingga dalam pemilihan metode pembelajaran yang lebih variasi.   


BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1    Konsep  Membaca
Definisi membaca bervariasi menurut para ahli. Membaca merupakan suatu proses. Hal ini didukung oleh beberapa batasan tentang membaca. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks, membaca bukanlah kegiatan yang menandai lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya melihat lambang-lambang yang dibacanya atau dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya (Harjasujana, dkk. 1996: 5).
Hodgon (dalam Mintowati, 2002: 3) mengemukakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa (proses aktif), bertujuan serta memerlukan strategi tertentu sesuai dengan tujuan dan jenis membaca (Mintowati, 2002: 5).
Membaca adalah keterampilan reseptis bahasa tulis (Mulyati, 2006:112). Membaca termasuk salah satu tuntutan dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan membaca, kita dapat mengetahui dan menguasai berbagai hal. Banyak orang membaca kata demi kata, bahkan mengucapkannya secara cermat, dengan maksud dapat memahami isi bacaannya. Membaca kata demi kata memang bermanfaat, tetapi tidak cocok untuk semua tujuan (Depdiknas, 2006: 143).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal pembaca. Faktor internal adalah kemampuan pembaca memahami lambang-lambang yang mengandung gagasan dari materi bacaan, sedangkan faktor eksternal materi bacaan itu sendiri.

2.2    Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi-informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan. Konsep dasar dalam membaca adalah memahami makna dan isi bacaan. Anderson (dalam Mintowati, 2002: 5) menuliskan tujuan membaca, yaitu:
a.    Menemukan detail atau fakta;
b.    Menemukan gagasan utama;
c.    Menemukan urutan atau organisasi bacaan;
d.    Menyimpulkan;
e.    Menklasifikasikan;
f.    Menilai, dan
g.    Membandingkan atau mempertentangkan.

Nurhadi (dalam Mintowati, 2002: 6) mengemukakan dua tujuan membaca yakni secara khusus dan secara umum. Secara khusus tujuan membaca yaitu mendapatkan informasi faktual, memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, memberikan penilaian terhadap karya tulis seseorang, memperoleh kenikmatan emosi dan mengisi waktu luangnya, secara umum membaca bertujuan untuk mendapatkan informasi, memperoleh pemahaman, dan memperoleh kesenangan.
Lebih lanjut, Nurhadi (dalam Mintowati, 2002: 6) menyatakan tujuan membaca dalam kaitan dengan proses dan kemampuan membaca terlihat seperti berikut ini.
a.    Kemampuan seseorang dalam memahami bahan bacaan secara nyata dipengaruhi tujuan membacanya.
b.    Tujuan membaca yang terumuskan secara jelas akan mempengaruhi pemerolehan   pemahaman bacaan.
c.    Tujuan membaca bersifat luas, artinya ada bermacam-macam kepentingan untuk tiap individu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca mempunyai kedudukan yang penting dalam membaca karena akan berpengaruh pada proses membaca dan pemahaman bacaan.

2.3    Konsep Pembelajaran
Ratumanan (2004: 5) mengemukakan ciri pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu:
1.    Mengaktifkan motivasi.
2.    Memberitahukan tujuan pembelajaran.
3.    Merancang kegiatan dan perangkat pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat terlibat secara aktif, terutama secara mental.
4.    Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang berpikir siswa.
5.    Memberikan bantuan terbatas kepada siswa tanpa memberikan jawaban final.
6.    Menghargai hasil kerja siswa dan memberikan umpan balik.
7.    Menyediakan aktifitas dan kondisi yang memungkinkan terjadinya konstruksi pengetahuan.

2.4    Membaca Teks Sastra
Luxemburg, et.al. (1992: 86) mendefinisikan teks sebagai ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, pragmatik merupakan suatu kesatuan. Berdasarkan pendapat tersebut, setidaknya terdapat tiga hal yang harus ada dalam sebuah teks. Tiga hal tersebut, yaitu: isi, sintaksis, dan pragmatik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) arti kata sastra adalah “ karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri. Teks sastra menjadi berharga manakala kita sebagai pembaca memberikan sebuah penilaian terhadap teks tersebut.
Dalam teori yang dikemukakan oleh Tzvetan Todorov’s, seperti dikutip Aminuddin (1987: 122) dijelaskan ada tiga hal yang muncul dalam kegiatan membaca sastra, yakni (1) proyeksi, (komentar), (3) puitika. Dalam proyeksi, kegiatan pembaca adalah berusaha memahami unsur-unsur di luar teks yang secara bersama-sama mendukung atau mempengaruhi kehadiran teks. Dalam komentar, pembaca berusaha memahami isi paparan teks. Pemahaman isi tes ini terutama dilakukan untuk memaknai bagian-bagian teks yang belum jelas maksudnya. Puitika, bahwa pembaca berusaha memahami kaidah-kaidah abstrak yang secara intrinsik terdapat dalam teks sastra itu sendiri.

2.5    Konsep Pembelajaran PAKEM
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.  Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut:
•       Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan  mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
•        Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
•        Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.
•       Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok
•       Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Pakem dapat kita lihat dari dua sisi, yaitu :
1.    Dari sisi guru dalam pembelajaran:
a.    Aktif, guru aktif :

- Memantau kegiatan belajar siswa.

- Memberi umpan balik.

- Mengajukan pertanyaan yang menyenangkan.

- Mempertanyakan gagasan siswa.

b.    Kreatif, guru:

- Mengembangkan kegiatan yang beragam.

- Membuat alat bantu belajar sederhana.

c.    Efektif, pembelajaran :

- Mencapai tujuan pembelajaran.

d.     Menyenangkan, pembelajaran :

 - Tidak membuat anak takut.

 - Takut salah.

 - Takut ditertawakan.

 - Takut dianggap sepele.

2. Dari sisi siswa dalam pembelajaran :

    a. Aktif, siswa aktif :

        - Bertanya.

        - Mengemukakan gagasan.

        - Mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya.

    b. Kreatif, siswa :

        - Merancang atau memuat sesuatu.

        - Menulis atau mengarang.

    c. Efektif, siswa :

        - Menguasai keterampilan yang diperlukan.

   d. Menyenangkan, pembelajaran :

       Membuat anak :

      - Berani membuat atau mencoba.

      - Berani bertanya.

      - Berani mengemukan pendapat atau gagasan.

      - Berani mempertanyakan gagasan orang lain.

2.6  Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Melaksanakan PAKEM
a.    Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia, selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap atau berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
b.     Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
c.     Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau  berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
d.    Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup ( jawaban betul hanya satu).
e.    Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
f.     Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar atau diagram.
g.    Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
h.    Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAKEM.
2.7  Pengelolaan Kelas PAKEM
Seting kelas yang konstruktif didasarkan pada nilai-nilai konstruktif dalam proses belajar, termasuk kolaborasi, otonomi individu, refleksi, relevansi pribadi dan pluralisme. Seting kelas yang konstruktif akan memberikan kesempatan aktif belajar. Mengacu pada pendekatan holistik dalam pendidikan, seting kelas konstruktif merefleksikan asumsi bahwa proses pengetahuan dan pemahaman akuisisi adalah benar-benar melekat pada konteks sosial dan emosional saat belajar. Karakteristik seting kelas konstruktif untuk belajar adalah terkondisikannya belajar secara umum, instruksi, dan belajar bersama.
Lima metode kunci untuk merancang seting kelas yang konstruktif, yaitu; 1) melindungi pemelajar dari kerusakan praktik instruksional dengan mengembangkan otonomi dan kontrol pemelajar, mendorong pengaturan diri dan membuat instruksi secara pribadi yang relevan dengan pemelajar, 2) menciptakan konteks belajar yang mendorong pengembangan otonomi pribadi, 3) mengkondisikan pemelajar dengan alasan-alasan belajar dalam aktivitas belajar, 4) mendorong pengaturan diri dengan pengembangan keterampilan dan tingkah laku yang memungkinkan pemelajar meningkatkan tanggung jawab dalam belajarnya, dan 5) mendorong kesadaran belajar dan pengujian kesalahan (Hadi Mustofa: 1998).
Penataan dan atau pengelolaan kelas dalam PAKEM perlu mempertimbangkan enam elemen Constructivist Learning Design (CDL) yang dikemukakan oleh Gagnon and Collay, yaitu situation, groupings, bridge, questions, exhibit, and reflections.
Situation, terkait dengan hal-hal berikut; apa tujuan episode pembelajaran yang akan dicapai, apa yang diharapkan setelah siswa keluar ruangan kelas, bagaimana mengetahui bahwa siswa telah mencapai tujuan, tugas apa yang diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan, bagaimana deskripsi tugas tersebut.
Grouping, dapat dilakukan berdasarkan karakteristik siswa atau didasarkan pada karakteristik materi. Bridge, terkait dengan; aktivitas apa yang dipilih untuk menjembatani atara pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan dibangun siswa.
Question, pertanyaan apa yang dapat membangkitkan tiap elemen desain (panduan pertanyan apa yang dapat mengintrodusir situasi, menata pengelompokan, dan membangun jembatan), pertanyaan klarifikasi apa yang digunakan untuk menengetahui cara berpikir dan aktivitas belajar siswa. Exhibit,  bagaimana siswa merekan dan memamerkan kreasi mereka melalui demonstrasi cara berpikir mereka dalam menyelesaikan dan atau memenuhi tugas.
Reflections, bagaimana siswa melakukan refleksi dalam menyelesaikan tugas mereka, apakah siswa ingat tentang (feeling, images, and language of their thought), apa sikap, proses, dan konsep yang akan dibawa siswa setelah keluar kelas.
Dalam penerapannya, PAKEM sekurang-kurangnya mempunyai empat fase. Fase pertama adalah perencanaan, fase kedua pelaksanaan, fase ketiga penilaian, dan fase keempat tindak lanjut. Fase-fase itu menjadi standar pekerjaan pendidik dalam konteks pembelajaran. Untuk memenuhi keempat fase itu pendidik harus memiliki kompetensi pedagogik seperti yang ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.


2.8     Hipotesis Tindakan
    Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
“Dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM dalam pembelajaran membaca teks sastra, kemampuan membaca teks sastra siswa kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari dapat meningkat.”


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


3.1    Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012. Jumlah Siswa di kelas tersebut sebanyak 34 orang yang terdiri dari 14 laki-laki dan 20 perempuan.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memberikan penekanan pada kualitas proses pembelajaran secara kritis dan kolaboratif. Metode ini dianggap mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil belajar.
Dalam melakukan penelitian, peneliti bekerjasama dengan guru bahasa Indonesia kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari di mana peneliti melaksanakan model pembelajaran PAKEM dan guru melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran. Oleh karena itu, bentuk PTK yang dilaksanakan termasuk PTK kolaboratif partisipatoris. Muhajir (1997: 122) menyatakan bahwa kolaboratif adalah kerjasama antara peneliti dan guru. Partisipatoris artinya peneliti terlibat langsung mulai dari tahap awal sampai tahap akhir penelitian, di mana terjadi refleksi berkelanjutan yang dilakukan peneliti bersama guru pengamat.


3.3    Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, maka faktor yang diselidiki yaitu kemampuan membaca pemahaman siswa untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan setelah mengikuti pebelajaran membaca melalaui penerapan model pembelajaran PAKEM.
3.4    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus dan setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Dasar penilaian hasil belajar siswa sebelum diberikan tindakan adalah nilai ulangan siswa kelas  VII¹ SMP Negeri 18 Kendari pada semester ganjil tahun ajaran 2010/2011.
Desain model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri atas empat tahap, yakni: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
     Siklus I
a.    Perencanaan
Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah:
1.    Mendiskusikan masalah ketidaktuntasan kemampuan membaca teks sastra siswa dengan guru bahasa Indonesia kelas VII¹ SMP Negeri 18 Kendari.
2.    Merencanakan penerapan model pembelajaran PAKEM sebagai pemecahan masalah dalam proses pembelajaran membaca.
3.    Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
4.    Mempersiapkan sumber, bahan, dan media yang dibutuhkan.
5.    Menyiapkan format evaluasi (penilaian).
6.    Mengembangkan formar observasi pembelajaran, yaitu format observasi guru dan format observasi aktifitas siswa.
b.    Pelaksanaan Tindakan
1.    Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan RPP.
2.    Menjelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
3.    Guru menjelaskan cara-cara membaca teks sastra (puisi dan cerita anak) yang benar.
4.    Siswa memperhatikan penjelasan pembacaan beberapa teks sastra ( teks sastra: puisi dan cerita anak), kegiatan pertama.
5.    Siswa mendiskusikan hal-hal yang diperhatikan dalam pembacaan teks sastra.
6.    Guru membagikan teks sastra secara beragam kepada siswa.
7.    Siswa berlatih membacakan teks sastra secara baik dan benar. ( teks sastra telah disiapkan secara beragam).
8.    Siswa memperhatikan penjelasan pembacaan teks sastra (puisi dan cerita anak), kegiatan kedua.
9.    Siswa tampil membacakan teks sastra yang telah disiapkan.
10.    Melakukan penilaian proses selama tindakan berlangsung.
11.    Kesimpulan.

c.    Pengamatan (observasi)
1.    Melakukan observasi terhadap kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memakai format pengamatan yang sudah disiapkan.
2.    Menilai hasil tindakan dengan menggunakan penilaian proses dan penilaian produk. Melalui penilaian proses dihasikan data tentang kemampuan membaca teks sastra siswa secara kelompok, sedangkan melalui penilaian produk dengan menggunakan tes akhir siklus dihasikan data tentang kemampuan membaca teks sastra siswa secara individu.

d.    Refleksi
1.    Peneliti dan guru pengamat melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi hasil belajar, kegiatan siswa dan kegiatan guru dari tindakan yang dilakukan.
2.    Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang rencana pembelajaran.
3.    Meperbaiki pelaksanaan  tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya
Siklus II
a.    Perencanaan
Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut
1.    Merencanakan penerapan model pembelajaran PAKEM dalam proses pembelajaran membaca sesuai dengan hasil refleksi pada siklus 1.
2.    Menyusun rencana pembelajaran untuk kompetensi dasar membaca puisi dan cerita anak.
3.    Mempersiapkan sumber, bahan, dan media yang dibutuhkan .
4.    Mempersiapkan format evaluasi.
5.    Mempersiapkan format pengamatan kegiatan guru dan format pengamatan kegiatan siswa.
b.    Pelaksanaan Tindakan
1.    Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan RPP.
2.    Menjelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
3.    Menentukan jenis tugas yang akan dikerjakan oleh siswa.
4.    Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, setiap kelompok berjumlah 4 orang.
5.    Guru menjelaskan cara-cara membaca teks sastra (puisi dan cerita anak) yang benar, disertai dengan tampilan rekaman gambar melalui media LCD.
6.    Siswa memperhatikan penjelasan pembacaan beberapa teks sastra ( teks sastra: puisi dan cerita anak), kegiatan pertama.
7.    Siswa mendiskusikan hal-hal yang diperhatikan dalam pembacaan teks sastra.
8.    Guru membagikan teks sastra secara beragam kepada siswa.
9.    Siswa berlatih membacakan teks sastra secara baik dan benar. ( teks sastra telah disiapkan secara beragam).
10.    Siswa memperhatikan penjelasan pembacaan teks sastra (puisi dan cerita anak) melalui media LCD, kegiatan kedua.
11.    Siswa tampil secara berkelompok membacakan teks sastra yang telah disiapkan.
12.    siswa memberikan tanggapan terhadap penampilan rekannya.
13.    Melakukan penilaian proses selama tindakan berlangsung.
14.    Kesimpulan.


c.    Pengamatan (observasi)
1.    Melakukan observasi terhadap kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memakai format pengamatan yang sudah disiapkan.
2.    Menilai hasil tindakan dengan menggunakan penilaian proses dan penilaian produk. Melalui penilaian proses dihasikan data tentang kemampuan membaca teks sastra siswa secara kelompok, sedangkan melalui penilaian produk dengan menggunakan tes akhir siklus dihasikan data tentang kemampuan membaca teks sastra siswa secara individu.

d.    Refleksi
1.    Peneliti dan guru pengamat melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasi hasil belajar, kegiatan siswa dan kegiatan guru dari tindakan yang dilakukan.
2.    Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang rencana pembelajaran.
3.    Meperbaiki pelaksanaan  tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Berdasarkan hasil  analisis dan refleksi, siklus akan dihentikan apabila indikator keberhasilan telah tercapai.
3.6    Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan pengamatan langsung dan teknik tes. Melalui pengamatan langsung dikumpulkan data-data tentang kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Teknik tes digunakan untuk memproleh data tentang kemampuan membaca teks sastra siswa. Tes kemampuan membaca teks sastra tersebut diberikan pada setiap akhir siklus pembelajaran.
3.7    Instrumen Penelitian
        Instrumen penelitian ini terdiri atas:
1)    Lembar pengamatan kegiatan siswa untuk siklus I dan II. Lembar pengamatan tersebut terdiri atas 14 aspek pengamatan.
2)    Lembar pengamatan kegiatan guru untuk siklus I dan II. Lembar pengamatan tersebut terdiri atas 17 aspek pengamatan.
3)    Tes akhir siklus I dan II berupa tes kemampuan membaca teks sastra yang terdiri atas 20 butir soal dan berbentuk pilihan ganda. Tes tersebut terbagi atas 10 butir soal untuk menilai kemampuan membaca teks sastra siswa pada siklus I, dan 10 butir soal untuk menilai kemampuan membaca pemahaman siswa pada siklus II.

3.8    Teknik Analisis Data
Dalam data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendiskripsikan kegiatan guru dan siswa selama pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mendiskripsikan skor kemampuan guru melaksanakan model pembelajaran PAKEM.
Analisis data hasil pengamatan kegiatan guru dan siswa dilakukan dengan cara menghitung  jumlah skor hasil pengamatan, selanjutnya dihitung presentasenya kemudian dikonferensi ke dalam kualifikasi.
        Presentase hasil pengamatan dihitung dengan menggunakan rumus :
     Jumlah skor
% =     x 100
    Skor maksimum
                   
                    (Anonim, 1994)
   
Persentase ketuntasan belajar siswa secara klafikasikal menggunakan rumus :
            Jumlah siswa yang tuntas
ketuntasan  klasikal =                              x 100
                jumlah seluruh siswa


3.9    Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian ini dilihat dari aspek penilaian proses dan aspek penilaian hasil sehingga data yang diperoleh adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif tersebut dilihat dari proses pelaksanaan tindakan. Proses pelaksanaan tindakan ini dikatakan berhasil apabila dalam proses pembelajaran siswa memperlihatkan sikap antusias dan tindakannnya menunjukkan keaktifan, kerjasama, dan merasa tertarik membaca teks sastra dalam model pembelajaran PAKEM. Dan data kuantitatif tersebut dapat dilihat dari hasil tes performansi pada setiap siswa.
Ukuran indicator kuantitatif tersebut, ukuran ketuntasan belajar dalam penelitian ini sesuai dengan standar keberhasilan atau ketuntasan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006/2007 yakni 65% katuntasan individual dan 85% ketuntasan klasikal.

0 Response to " "

Poskan Komentar