Shinee - Taemin

Perempuan Dalam Beban dan Kemerdekaan



Abstrak: Penulisan artikel ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai peran perempuan bila ditinjau dari dua penulis naskah drama yang mempunyai cara pandang berbeda terhadap peran perempuan dalam kehidupan sekari-hari. Penulisan ini juga membandingkan cara penulis menilai sosok perempuan dalam imajiner mereka, permasalahan perempuan bila di lihat dalam suatu karya sastra tidak akan ada batasnya, bahkan karena begitu pentingnya peran perempuan maka dilahirkannya teori feminis dimana teori ini menguatkan posisi perempuan dalam tataran sosial dan mensejajarkan dengan posisi pria. Disini juga akan ada pembahasan mengenai suatu karya sastra yakni naskah drama ditinjau dari segi penulisnya (ekspresif). Perempuan dalam beban dan kemerdekaan akan mengulas lebih spesifik mengenai perempuan dalam kungkungan dan perempuan dalam kebebasan, namun tetap dalam batasan keperempuanan yang memiliki kelembutan.
Kata kunci: perempuan, karya sastra, penulis.



PENDAHULUAN

        Karya sastra dalam berbagai bentuk selalu memberi makna tentang kehidupan. Hal ini dimungkinkan karena karya sastra merupakan gambaran kehidupan manusia. Karya sastra merupakan bagian dari seni yang mengandung unsur kehidupan yang menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian, dan menyegarkan perasaan penikmat. Kedudukan dan manfaat karya sastra bagi seorang pencipta karya sastra tidak hanya ingin mengekspreskan pengalaman jiwanya saja, tetapi lebih dari itu. Penulis bermaksud mempengaruhi pembaca agar ikut memahami dan menghayati ide yang tertuang dalam karya sastra tersebut.

Keberadaan karya sastra di tengah-tengah masyarakat adalah hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya (world vision) kepada subjek kolektifnya. Signifikasi yang dielaborasikan subjek individual terhadap realitas sosial di sekitarnya menunjukkan bahwa sastra berakar pada kultur dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian mengukuhkan sastra sebagai dokumentasi sosiobudaya (Iswanto, 2001: 61).
Pernyataan di atas berimplikasi bahwa sastra sesungguhnya adalah lembaga sosial yang menyuarakan pandangan dunia pengarangnya. Pandangan ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan aspirasi, dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat.

    Drama (Yunani Kuno δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “aksi”, “perbuatan”. Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Sebuah naskah drama, sudah dengan sendirinya mempunyai kedudukan sastrawi yang dapat dipandang sebagai karya yang memilki kedudukan tersendiri. Sebab, sebuah lakon drama pengaruh nilai estetisnya kepada pembaca dapat saja bersifat mendalam, berkesan, atau bahkan lebih menantang.
    Dari penjelasan drama tersebut di atas, maka tujuan dari sebuah naskah drama adalah agar para penikmat suatu pementasan drama bisa membandingkan hasil bacaan maupun pementasan yang ditontonnya. Disamping itu, para penikmat juga tidak harus menerima semua suguhan persembahan drama tanpa ada bekal apa-apa yakni suatu naskah drama yang dapat di baca terlebih dahulu. Sebagai sastra lisan drama adalah teater, sedang drama sebagai karya tulis adalah peranan naskah terhadap komunikasi drama itu sendiri. Dalam hal ini lebih ditekankan aspek pembaca drama daripada penonton, dan merubah pendekatan yang berorientasi kepada aktor ke pendekatan yang berorientasi terhadap naskah.

PEMBAHASAN
    Perempuan dalam beban dan kemerdekaan adalah tema yang digambarkan pada keempat naskah drama yang ada dalam tulisan ini, mencoba untuk lebih dekat dengan dunia perempuan yang timbal balik, dunia perempuan dalam beban yang dipikulnya karena tanggung jawab terhadap anak dan lingkungan serta kemerdekaan yang didapat apabila keluar dari kungkungan namun tidak mengabaikan tanggung jawab kiranya gambaran itulah yang ada pada tulisan Royal Ikmal, Utuy Tatang Sontani, Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero, serta Yukio Mishima.
    “membuat perut menjadi buncit adalah hal yang sangat menyenangkan”
    Kutipan tersebut diatas adalah dialog dalam drama Royal Ikmal, Waktu Perempuan ,yang diucapkan oleh Pemudah Satu, tokoh yang  menjadi tokoh utama dalam drama Waktu Perempuan .Pemuda Satu berperan sebagai seorang pemuda lajang yang tidak mandiri namun suka “bermain”dengan perempuan ,disamping itu, Pemuda Satu juga sangat tidak menghargai Perempuan Satu maupun Perempuan Dua (tokoh dalam naskah drama).Tidak ditemukan sikap atau sifat yang mecerminkan pemghargaan akan hak perempuan.
     Di dunia ini kita diciptakan tuhan dengan berpasang-pasangan semua makhluk hidup pasti memiliki pasangan dan hal itu tidak terkecuali dalam sebuh karya sastra, naskah drama. Royal Ikmal menyadari hal itu, dan dalam drama yang di ciptakannya, Royal menghadirkan lelaki dan perempuan dalam situasi seperti yang terjadi di masyarakat. Cara pandang dalam drama Royal ini seakan-akan perempuan yang menanggung beban dan membiarkan para lelaki bertindak sesukannya. Karya Royal Ikmal ini berlatar namun latar yang digunakan adalah latar masa sekarang tanpa ada pelataran fleshback. Penggambaran perempuan jelas tampak dalam naskah drama ini bahwa kebebasan hanya milik para lelaki bukan untuk para perempuan, bila meninjau alur yang dihadirkan  dalam drama ini, Royal lebih berpihak pada sosok pria-nya, entah apa yang melatar belakangi hal itu, penghadiran tokoh manusia terbalik semakin menguatkan gambaran yang terjadi di sekililing bahwa bila melakukan perbuatan yang kurang baik maka akan hadir seperti bisikan setan yang akan terus menghasut pikiran manusia. Tuntutan terhadap perempuan yang harus ekstra serba bisa namun menghadirkan ketidakberdayaannya juga sesuatu yang terjadi dalam drama Royal Ikmal ini. Dalam naska drama Royal ini jelas tampak karakter toko perempuan dan lelaki. Pemuda satu dan Pemuda dua dikisahkan sebagai pemuda yang mengharapkan keringat perempuan tetapi tidak mengargai yang namanya sosok perempuan, sedang tokoh perempuan dibagi menjadi tiga toko, yakni Perempuan satu, Perempuan dua,dan Perempun tua, karakter perempuan-perempuan tersebut terkungkung dengan karakter tokoh lelaki. Sebut saja toko Perempuan Tua yang berperan sebagai ibu dari Pemuda Satu ,peran yang dilakonimya sebagai seorang ibu memberi kehidupan pada anaknya Pemuda Satu ,namun Pemuda Satu tidak pernah puas malah meminta terus menerus hasil kerja Keras ibunya. lIhat kutipan dibawah ini :
Pemuda 1    : Bu,aku lapar…! Berikan aku ibu debu tanganmu.  Bu,aku haus!Berikan aku keringat badanmu  !  
   Perempuan tua    : Aku sudah hampir kering. Kenapa kamu tidak mengalir dengan wajar ,kamu bisa makan debu  tanganmu dan minum keringatmu sendiri.
Pemuda 1    : Keringat dan debu tanganku hanya bisa aku dapatkan kalau aku berbuat sesuatu (sibuk mencari sesuatu untuk dikerjakan) tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa kalau aku tidak menemukan apa yang harus aku kerjakan. 
    Dari kutipan di atas terlihat bahwa pemuda satu tidak bisa berbuat apa-apa selain merengek meminta pada si perempuan tua. Di sisi lain, pemuda satu juga ditemankan dengan pemuda dua, Royal membuat keduanya sama-sama arogan, karena tidak peduli dengan suara yang dikeluarkan oleh perempuan. Dengan pencitraan seperti ini, lebih jauh menelisisk pada penulisnya yakni Royal Ikmal, perlu dipertanyakan bahwa apakah terlahirnya sebuah naskah drama yang ditulismnya yakni pemusatan karakter arogan yang dimiliki oleh tokoh pria dalam drama tersebut adalah karena ia sendiri seorang lelaki? Atau mungkin saja Royal sendiri menjumpai para perempuan rapuh? Mungkin perlu adanya peninjauan lebih lanjut dengan membandingkan karya- karya Royal yang lain. Kutipan berikut:
        Perempuan 1        : tidak kamu ada padaku.
        Pemuda 2        : kamu ada pada kami.
        Perempuan 2        : tidak, kalian ada pada kami.
        Perempuan 1        : kalian punya ibu yang menyusui kalian.
        Pemuda 2        : kalian punya bapak yang menafkahi kalian.
Pemuda 1    : (dengan suara lanang) kalian memang yang menjadikannya, akan tetapi kami yang mengadakannya semua.
        Perempuan 2        : kenapa kalian tidak mau mendengar kami.

    Drama yang di bumbui dengan nama-nama tokoh yang agak sempit, yakni Pemuda Satu, Pemuda Dua, Perempuan Satu, Perempuam Dua, diantara nama-nama sempit tersebut, Royal rupanya satu nama sehari-hari namun tetap terlihat khusus, yakni Perempuan Tua. Ia pula menghadirkan masalah diantara para Pemuda Satu dan Dua dengan Perempuan Satu dan Dua sehubungan dengan hak mereka.
    Rupanya kejadian yang terjadi dalam drama Royal Ikmal, berbeda dengan drama Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani. Dalam sandiwara ini, Utuy lebih berpihak pada perempuan walaupun di awal cerita nasib perempuan masih ada dibawah kuasa lelaki. Tapi Utuy tidak ingin berlama-lama menghadirkan sikap keterpurukan perempuan, bermula di tengah sampai akhir cerita perempuan mulai mengambil kemudi untuk menentukan nasibnya sendiri. Di sandiwara ini, tampak pula pemujaan terhadap sosok perempuan karena telihat pada judulnya yakni Bunga Rumah Makan, dimana tokoh Ani, menjadi primadona di sebuah rumah makan dan menjadi harga jual tersendiri karena parasnya yang manis. Istilah harga jual disini bukan masalah perdagangan perempuan tapi tokoh Sudarma (pemilik rumah makan) menyiasati paras ayu Ani agar banyak para pelancong yang singgah di rumah makan tersebut. Disini, Utuy hanya menghadirkan satu tokoh utama perempuan, mungkin saja penulis sangat mengagumi sosok perempuan hingga menghadirkan karya yang begitu memberi inspirasi terhadap wanita agar tidak terpuruk dengan semua hal yang ada didunia ini. Perhatikan kutipan berikut.
                  Karnaen    : (memalingkan muka Ani dan memijit-mijit tangan). Dapatkah engaku selamanya mengulurkan tangan kepadaku, mengindahkan suara hatiku, An?
    Ani        : saya tidak mengerti, mas.
    Karnaen    : (terkulai). Ya, engkau tak tahu menaruh kasihan kepadaku, (berjalan perlahan-lahan). Hanya jika aku memakai baju tentara, baru engkau mengindahkan cintaku.
   
    Kutipan di atas semakin memperjelas bahwa posisi Ani, sedang diperebutkan oleh para lelaki. Belum lagi pada para pengunjung yang suka pada Ani, tapi mereka semua harus menelan ludah saat mengetahui Ani sudah mempunyai pasangan yakni Suherman ( tokoh pemuda kapten tentara). Utuy tidak hanya semata-mata mempermulus langkah si perempuan dalam sandiwaranya, ia juga menghairkan barbagai masalah. Sifat perempuan yang mudah terkecoh juga dimasukkan oleh Utuy Tatang Sontano dalam sandiwaranya. Utuy sangat mengalir dalam penggambarannya terhadap sosok perempuan. Perempuan memang selama ini sering dipermainkan oleh para lelaki, ketidakberdayaan terhadap lelaki juga dirasakan dalam tokoh perempuan, Ani. Sedikit dibumbui dengan cerita cinta semakin membuat posisi perempuan semakin jelas. Perasaan perempuan mudah luntur oleh rayuan lelaki, kiranya penggambaran seperti itu ada pula dalam drama Utuy. Lihat kutipan berikut.
        Seherman       : (memegang dagu Ani, menegakkan mukanya). Sekarang kesal juga berhadapan dengan aku?
    Ani        : ti…dak.
    Suherman    : tersenyumlah supaya aku tidak kesal memandanginya.
    Ani        : (tersenyum).
    Suherman    : hm, siapa bilang engkau tidak indah? Segar rohaniku menghadapi engkau.

    Sifat perasa dan kepekaan yang ada di diri perempuan juga dihadirkan dalam drama ini, terlihat pada saat Ani hendak memarahi pengemis, namun saat pengemis meminta maaf dan memperlihatkan wajah memelasnya, hati Ani menjadi penuh dengan belas kasihan. Dan kemerdekaan menjadi kata yang pas pada cerita akhir sandiwara ini, Ani menjadi perempuan yang kuat dan tegar setelah sebelumnya rapuh karena ditinggal oleh kekasih hati yang sangat ia kagumi, keputusan untuk meninggalkan rumah makan menjadi semakin memperjelas kemandirian dan tekad yang keluar dalam diri perempuannya, tapi itu semua tidak terjadi bila tidak ada kesadaran diri dari perempuan dan dukungan yang lagi- lagi diberikan oleh lelaki yang juga berprinsip hidup bebas. Lebih spesifik, dalam naskah drama karya Utuy Tatang Sontani menggambarkan alur cerita tentang seorang perempuan dan perannya dalam kalangan masyarakat. Diceritakan mengenai perempuan (Ani) yang bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan yang menjadi tempat persinggahan istrahat bagi orang-orang yang hendak mengusir keletihan dan mengenyangkan perut. Karena di rumah makan tersebut hanya ada perempuan seorang, maka sebuta bunga rumah makan ditujukan padanya, bukan karena alasan hanya satu-satunya perempuan, melainkan si perempuan ini juga memiliki paras yang lumayan cantik, terbukti penulis menggambarkan bahwa sebahagian tokoh lelaki yang ada di dalam naskah drama tersebut jatuh hati padanya, hingga rumah makan tempatnya bekerja menjadi banyak pelanggan. Utuy Tatang Sontani memasukkan sebelas tokoh dengan perwatakan masing-masing yang mendukung alur cerita yang diciptakan. Latar tempatpun jelas disebutkan, yakni di rumah makan “Sambara”. Kembali pada alur cerita, penulis menghadirkan  konflik antara tokoh. Pencintraan perempuan di ubah pada akhir cerita, yang tadinya ia adalah seorang perempuan yang patuh pada perintah atasan karena sudah tidak memiliki kerabat lain, Utuy Tatang Sontani mengubah menjadi seorang perempuan yang ingin mandiri dan hidup bebas yang dikarenakan oleh perasaan yang hancur karena semua angan akan masa depan tidak dapat digapainya dengan seorang pria (Suherman) yang menjadi tambatan hati.
    Sedangkan dalam sandiwara Malam Terakhir karya Yukio Mishima, lebih memperkuat pencitraan perempuan. Ia membuat seakan-akan lelaki tidak dapat hidup tanpa pendampingnya seorang perempuan. Di dalam sandiwara ini, Yukio seakan-akan menjadi pengagum sejati perempuan dengan menghadirkan tokoh lelaki yang amat memuja kecantikan perempuan meskipun si lelaki tahu apa akibat dari kekagumannya tersebut. Perempuan dalam sandiwara ini lebih memegang kendali dibandingkan dengan para lelaki, mengapa dikatakan demikian? Karena jelas terlihat di akhir cerita Yukio membuat tokoh lelaki (penyair) rela menanggung resiko demi kekagumannya terhadap tokoh perempuan tua.  Sandiwara ini juga menghadirkan perempuan tanpa beban yang berat, sebaliknya kemerdekaan menjadi genggamannya.  Kemerdekaan yang kiranya tergambar jelas karena tokoh perempuan dengan segala kebebasan yang diserahkan padanya. Kutipan berikut.
Perempuan tua         : jangan katakana! Bukankah kutelah memperingatkanmu? Tidak tahukah kau apa yang akan terjadi kalau kau mengatakan aku cantik?
Penyair                       : kalau aku berpendapat bahwa sesuatu cantik, maka aku harus mengatakannya, sekalipun aku harus mati karenanya.
    Perempuan tua            : jangan-jangan kau lakukan hal itu!
    Penyair                 : aku harus mengatakannya padamu Komachi! Engkau cantik! Engkau perempuan   paling cantik didunia. Dan kecantikanmu tidak akan memudar, sekalipun sudah seribu tahu.
    Dialog yang dilakukan oleh dua tokoh utama yakni Perempuan Tua dan Penyair tersebut semakin memperjelas pemujaan seorang lelaki terhadap perempuan tua yang dikaguminya meskipun raganya telah tua renta namun pikirannya tersebuty telah tertutup oleh rasa sukanya terhadap si perempuan tua. Rasanya menghentikan rasa kagu seorang lelaki terhadap permpuan dengan mematikan tokoh penyair di akhir sandiwara. Namun, lagi-lagi sifat tegar diperlihatkan oleh perempuan tua karena tidak menangisis kepergian penyair tersebut.
    Naskah drama Pagi Bening, terjemahan Drs. Sapardi Djoko Damono dari drama komedi satu babak karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero juga mempunyai alur cerita yang lucu dan menggelitik. Mengisahkan tentang seorang kakek (Don Gonzalo) dan nenek (Donna Laura) yang bertemu dengan situasi yang kurang baik sehingga menimbulkan kesan pertemuan pertama yang buruk. Keangkuhan hati kedua kakek nenek tersebut semakin menggambarkan watak kakek nenek sebagaimana biasanya sifat seorang yang sudah lanjut usia. Namun di sisi lain penulis juga menghadirkan sifat pengertian dari kedua kakek nenek tersebut. Dari sifat pengertian itulah penulis memulai masuk ke dalam alur cerita cinta yang menggelitik. Sandiwara ini menceritakan kisah yang kilas balik antara masa muda dan masa tua kedua tokoh utama tersebut. Dimulai dengan cerita konyol yang mulai mengingatkan akan kejadian masa lalu antara dua tokoh sampai mereka pun mengetahui posisi masing-masing dalam cerita yang mereka bicarakan. Ingatan akan cerita cinta masa lalu hanya mereka kubur dalam hati karena keadaan mereka sekarang yang tidak memungkinkan untuk mengulang semua cerita muda mereka. Dalam naskah drama ini, penulis hanya menghadirkan empat tokoh. Penulis membuat dua tokoh utama dan dua tokoh figuran. Tokoh figuran (Petra dan Juanito) digambarkan sebagai pelayan dari dua tokoh utama. Latar dari naskah drama ini pun jelas terjadi di Madrid, Spanyol tepatnya di sebuah taman terbuka. Pada sandiwara ini, peran perempuan dan lelaki sama-sama mencolok jadi beban dan kebebasan yang diciptakan mengalir begitu saja tanpa ada ikatan apapun, Serafin dan Joaquin sama-sama menghadirkan sifat seimbang di antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak ada penggambaran bias jender yang terjadi.

PENUTUP
    Dari penggambaran-penggambaran yang ada di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa sastrawan yang mengutamakan peranan perempuan dalam naskahnya, tapi ada pula yang kurang memperhatikan kebebasan dan kemerdekaan perempuan. Ada beberapa sastrawan, bila dilihat dari segi ekspresifnya cenderung ke hal-hal yang mereka alami atau dapat pula terjadi dilingkungan mereka dan yang lebih spesifik lagi, mungkin saja pemujaan dan ketimpangan terhadap perempuan didasari oleh kepribadian mereka sebagai penulis dan seorang lelaki. Yang menjadi perhatian sekarang adalah perempuan dalam beban dan kemerdekaan kiranya mampu memberikan gambaran umum tentang sifat perempuan, dan kembali lagi pada penikmat karya sastra apakah hanya akan berhenti menikmati karya sastra yang ada atau mau memberikan sumbangan kreasi yang lebih baik lagi.



BIOGRAFI PENULIS: Marta, lahir di Kendari 07 Desember 1990. Anak ketiga dari 6 bersaudara dan menamatkan SMA di DDI Kendari. Saat ini sedang menempuh pendidkan di Universitas Haluoleo.

   
   
   
   



   
»»  Baca Selengkapnya...

Kebudayaan Dalam Dunia Iptek

    Di era globalisasi seperti sekarang ini perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sudah berkembang dengan sangat cepat. Bahkan karena kecepatan perkembangan teknologi tersebut, nilai-nilai budaya menjadi terabaikan.Teknologi telah banyak berkembang termasuk dalam hal teknologi informasi, sehingga negara-negara maju mampu menyampaikan pesan-pe san apa saja melalui beraneka media yang mudah didapatkan dan digunanakan. Manusia sekarang cenderung lebih memilih cara instan dalam berbagai hal dan cara instan ditemukan dalam dunia iptek, Sedikit banyak manusia zaman sekarang lebih sering menggunakan berbagai teknologi berupa media handphone, dimana segala informasi  yang ingin di sampaikan seseorang dapat terbaca dengan cepat dan hemat karena si pengirim pesan tidak perlu mengeluarkan uang untuk dapat bertemu dengan orang yang hendak diberi informasi tersebut. Keuntungan dan kemudahan seperti itu hanya didapatkan di negara-negara berkembang, dimana mereka dengan mudahnya mengakses jaringan-jaringan informasi dengan sangat mudah. Di sisi lain, pesan-pesan yang disampaikan dapat menimbulkan dalam hati para pendengar, harapan-harapan yang mungkin tidak bisa dicapai, sikap serta gaya hidup yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan situasi dan tuntutan mendesak negara itu sendiri. Pengaruh dari pesan-pesan tadi bisa lebih buruk lagi dimana kreativitas kultural asli akan tertindih dan terkikis habis terlebih di Negara kita (Indonesia).
    Teknologi telah mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari karena seperti yang telah disebutkan di atas bahwa setiap orang, Baik itu orang berada maupun tidak, anak-anak atau pun dewasa sudah menggunakan yang namanya teknologi berupa handphone dan computer. Dengan menggunakan kedua teknologi tersebut, mereka (pengguna teknologi) tidak akan menyandang gelar “gaptek” istilah anak zaman sekarang. Kedua teknologi tersebut sangat memberikan kemudahan bagi para pengguna sehingga menimbulkan rasa kecanduan  tersendiri terhadapnya. Di sisi lain, dengan sadar atau tidak kita telah berada bersebrangan dengan kebudayaan dimana teknologi sebagai penengah yang siap perbudak diri kita dengan segala kemudahan yang ditawarkan.     Untuk menghadapi ancaman yang dihadapi seperti yang telah diungkapkan di atas, maka  penguatan penghayatan identitas budaya perlu ditingkatkan.
       Kreativitas dan kepercayaan pada diri sendiri yang sudah tertanam dalam suatu rasa identitas nasional dan kultural perlu digali dan dikembangkan. umumnya sumber-sumber semangat kegiatan sosial dari kebanyakan masyarakat terdapat dalam acuan religius-kultural mereka. Menghadapi ancaman iptek, kita harus memulai dengan mengembangkan teknologi yang berbeda dan tepat guna agar kita dapat memautkan kebudayaan tradisional untuk dapat membentuk kembali jati diri yang telah hilang dan semakin hilang. Oleh karena itu, kita harus memikirkan dan mengkaji kembali dengan baik jenis dan ragam teknologi apa yang hendak kita kembangkan dalam rangka mengembangkan kemanusiaan, kesejahteraan dari segenap diri dan alam alam kehidupan kita. Yang dicari adaah suatu kebudayaan dan peradaban baru, yang tujuannya bukanlah perkembangan serta kelimpahn yang berlipat ganda terus-menerus, melainkan kepenuhan diri sebagai manusia, yang mampu menjalankan kehidupan sesuai dengan maknanya yang lebih dalam.
    Dengan kasat mata dapat disaksikan bahwa perkembangan teknologi modern telah mempercepat tempo kehidupan, pengangkutan serba lebih cepat, komunikasi secepat kilatan cahaya. Sebagai akibatnya, siapa lambat akan ketinggalan dan akan kalah dalam persaingan. Jadi, kita dapat menyaksikan betapa kebudayaan menjadi ketinggalan dipacu oleh kemajuan teknologi yang begitu cepat. Akan tetapi, disamping hal-hal mengagumkan yang bisa dinikmati dari perkembangan teknologi tersebut, bisa dilihat juga hal-hal yang membuat kita susah kembali. Misalnya, penggunaan handphone dan computer yang sudah semakin banyak, telah membuat pemakainya menjadi tidak terkontrol baik itu dalam pengeluaran dana untuk membeli maupun waktu yang terbuang sia-sia dalam pemakaiannya. Belum lagi kalau melihat pada perkembangan teknologi lain, dimana kita menghadapi banyak masalah serius yang semakin sulit untuk diatasi. Ada kesan seakan perkembanan teknologi modern itu mempunyai kemajuannya sendiri dan mendorong orang menderita karena akibat-akibat yang tidak dikehendakinya. Manusia seakan tidak mempunyai perlengkapan kebudayaan yang diperlukan untuk menghindari teknologi yang bersifat merusak (destruktif). Sekarang kita dihadapkan engan persoalan yakni kenyataan bahwa kemajuan teknologi telah tidak dibarengi dengan kemajuan kebudayaan kita. Ada ketidakmampuan kita untuk secara kreatif menata dan memperkuat nilai-nilai budaya, ada ketidakmampuan kita untuk mengembangkan dan memperkuat nilai-nilai moral. Sebaliknya, nilai-nilai buruk semakin mendapat tempat, seperti mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok sendiri, mental korupsi, kemunafikan, dan sebagainya.
    Untuk menghadapi situasi-situasi seperti itu, kita perlu memperkecil dampak-dampak buruk kemajuan teknologi terhadap kebudayaan kita dan kita harus dapat memperluas pengetahuan dan daya analisis kita sendiri mengenai teknologi. Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi sangat kita perlukan di era globalisasi seperti sekarang ini, namun kita juga harus memperhatikan nilai- nilai budaya, terlebih bagi para remaja karena mereka lah yang akan membangun jati diri bangsa. Kita tidak perlu mengikis sedikit demi sedikit setiap ilmu teknologi yang masuk, tetapi disini kita diharapkan dapat menggunakan atau memanfaatkan media teknologi untuk dapat mempromosikan kebudayaan kita ke Negara luar. Hal yang perlu diperhaikan adalah, manusia penting menguasai kemauan sains dan teknologi, sambil mengembangkan nilai-nilai kebudayaan secara berimbang dengan kemajuan sains dan teknologi itu sendiri.
»»  Baca Selengkapnya...

 STUDI BAHASA

    Studi bahasa adalah suatu bidang yang sifatnya sebagai disiplin tersendiri, studi bahasa banyak melibatkan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Dalam hal ini, terdapat studi bahasa yang semata-mata memperhatikan struktur bahasa sebagai kode ( linguistic), ada studi bahasa yang mempelajari bahasa dalam hubungannya dengan perkembangan individu ( psikologi bahasa atau psikolinguistik), ada pula studi bahasa yang menitikberatkan analisis bahasa sebagai bagian dari kebudayaan manusia ( antropologi bahasa atau antropologilinguistik), dan terdapat pula studi bahasa yang mengutamakan telaah bahasa sebagai gejala sosial ( sosiologi bahasa atau sosiolinguistik).
    Studi bahasa secara linguistic kemudian dikenal sebagai linguistik umum atau disingkat linguistik dan diakui sebagai ilmu ( disiplin) yang mandiri setaraf dengan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Sedangkan psikolinguistik, antropolinguistik, dan sosiolinguistik termasuk subdisiplin-subdisiplin linguistic dan merupakan studi yajng sifatnya interdisipliner.

    Manfaat Sosiolinguistik dalam Studi Bahasa
Studi bahasa secara linguistic dimaksudkan untuk merumuskan kaidah-kaidah bahasa, menentukan pola-pola struktur bahasa, memberikan deskripsi tentang tata bahasa serta melukiskan peristiwa-peristiwa kebahasan yang ada. Studi semacam itu berusaha menganalisis bahasa berdasarkan hakikat bahasa itu sendiri sebagai objek yang mandiri. Dalam pengertia seperti itu bahasa dipelajari sebagai sistem yang berdiri sendiri, dengan analisis secara tersendiri, terlepas dari pemakai dan berbagai kemungkinan dan pemakaiannya di dalam masyarakat serta kebudayaan yang melatarbelakangi pemakaian bahasa itu.
Sosiolinguistik memandang bahasa, pertama-tama sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Sedangkan pemakaian  bahasa (language use) adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi-situasi yang konkrit. Ini bararti bahwa dengan pendekatan sosiolinguistik, kita pelajari bahasa dalam konteks sosio-kultural serta situasi pemakaiannya. Dengan demikian kita memandang bahasa tiak saja dari sudut penuturnya, tetapi juga dari sudut pendengarnya. Dan apabila kita dalam pemakaian bahaswa pada hakikatnya adalah proses interaksi verbal antara penutur dan pendengarnya, maka makin jelaslah manfaat sosiolinguistik itu baik penutur maupun pendengar selalu mempertimbangkan kepada siapa ia berbicara, di mana, kapan, mengenai masalah apa dan dalam situasi bagaimana dan sebagaianya.
Sosiolinguistik selalu memperhatikan peranan faktor sosio-situasiokultural dalam pemakaian bahasa. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosiolinguistik maka masalah ketidaktepatan pemakaian bahasa dalam konteks sosialnya diperkirakan dapat dikurangi sampai sekecil-kecilnya. Dengan memahami prinsip-prinsip sosiolinguistik setiap penutur akan menyadari betapa pentingnya peranan ketepatan pemilihan variasi sesuai dengan konteks sosial di samping kebenaran secara struktur gramatikal dalam pemakaian bahasanya.

    Keadaan Sosiolinguistik di Indonesia
Keadaan sosiolinguistik di Indonesia cukup kompleks. Bagaimanapun kita berikan batasan kepada bahasa dan dialek, adalah jelas bahwa terdapat sejumlah besar bahasa di Negara kita. Menurut peta bahasa yang diterbitkan Lembaga Bahasa Indonesia ( 1972), ada sekitar 418 bahasa di Indonesia, dengan sejumlah penutur setiap bahasa berkisar antara 100 orang ( di Irian Jaya) sampai dengan kira-kira 50 juta orang ( bahasa Jawa).
Di antara bahasa-bahasa itu, bahasa Indonesia mempunyai kedudukan istimewa sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa Negara. Penentuan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara termasuk dala Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, pasa 36, yang berbunyi “ Bahasa Ngara ialah bahasa Indonesia.”
Bahasa-bahasa daerah yang lain itu adalah bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah itu ditentukan kedudukan hukumnya berdasarkan penjelasan pasal 36, Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Bab XV, yang berbunyi sebagai berikut, “ Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara rakyatnya dengan baik-baik ( misalnya bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-basa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.”
Kebanyakan orang Indonesia belajar suatu bahasa daerah, yakni bahasa sukunya, sebagai bahasa pertama. Mereka belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di sekolah atau secara informal di masyarakat. Orang yang demikian berdwibahasa dengan bahasa daerah yang lain atau yang kedua. Sering juga orang Indonesia mengetahui satu atau dua bahasa daerah yang bukan bahasa pertamanya, yang dipelajarainya secara informal dalam pergaulan dengan penutur-penutur bahasa daerah yang bersangkutan. Dengan begitu, dapat dimengerti bahwa adalah yang biasa bagi orang Indonesia berdwibahasa, malah bermultibahasa.

   
»»  Baca Selengkapnya...

PEMBAKUAN BAHASA

Kebijaksanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah bahasa dari sejumlah bahasa yang ada. Dalam suatu negara untuk dijadikan bahasa nasional atau bahasa resmi kenegaraan dari negara tersebut. Perencanaan bahasa dapat memilih dan menentukan sebuah ragam bahasa dari ragam-ragam yang ada pada bahasa yang sudah dipilih untuk menjadi ragam baku atau ragam standar bahasa tersebut. Proses pemilihan satu ragam bahasa untuk dijadikan ragam bahasa resmi kenegaraan maupun kedaerahan, serta usaha-usaha pembinaan dan pengembangannya yang biasa dilakukan terus-menerus tanpa henti, disebut pembakuan bahasa atau standarisasi bahasa. Lebih lanjut mengenai materi pembakuan bahasa akan dibahas pada bab pembahasan dalam makalah ini.

A.    Bahasa Baku

Berbicara tentang bahasa baku (lebih tepat disebut ragam bahasa baku) dan bahasa nonbaku, berarti kita membicarakan tentang variasi (Inggris: variety) bahasa, karena yang disebut bahasa baku itu adalah salah satu variasi bahasa (dari sekian banyak variasi) yang diangkat dan disepakati sebagai ragam bahasa yang akan dijadikan tolak ukur sebagai bahasa “ yang baik dan benar” dalam komunikasi yang bersifat resmi, baik secara lisan maupun tulisan. Keputusan untuk memilih dan mengangkat salah satu ragam bahasa, baik ragam regional maupun sosial, merupakan keputusan yang bersifat politis, siosial, dan linguistis.

Dalam hal kestatusan seiring muncul pertanyaan, apakah bahasa baku itu sama dengan bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara, dan bahasa Tinggi (yang ada dalam masyarakat yang diglosik). Pertanyaan-pertanyaan yang memang wajar untuk ditanyakan ini sebenarnya menampakkan pencampuradukkan konsep dari pihak yang bertanya. Penyebutan nama atau pemberian nama terhadap suatu bahasa menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa negara, dan bahasa Tinggi adalah penamaan bahasa sebagai langue, sebagai kode secara utuh keseluruhan; padahal penamaan bahasa baku adalah penamaan terhadap salah satu ragam dari sejumlah ragam yang ada dalam suatu bahasa.

Ada beberapa pendapat para ahli mengenai definisi dari bahasa baku itu sendiri. Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian masyarakat emakainya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan  norma bahasa dan penggunaannya. Sedangkan ragam yang tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai dengan ciri-ciri yang menyimpang dari norma bahasa baku. Sebagai kerangka rujukan, ragam baku ditandai oleh norma dan kaidah yang digunakan sebagai pengukur benar atau tidaknya penggunaan bahasa. Menurut Dittmar (1976: 8) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam ujaran dari suatu masyarakat bahasa yang disahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atas kepentingan dari berbagai pihak yang dominan di dalam masyarakat itu. Tindakan pengesahan norma itu dilakukan melalui pertimbngan nilai yang bermotivasi sosiopolitik.

Hampir sejalan dengan Dittmar, maka Hartmann dan Stork (1972: 218) mengataka bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa secara sosial lebih digandrungi, seringkali lebih berdasarkan pada ujaran orang-orang yang berpendidikan di dalam dan di sekitar pusat kebudayaan dan ataua politik suatu masyarakat tutur. Sedangkan Pei dan Geynor (1954: 203) menggataka bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya, dan disepakati penutur dialek-dialek lain sebagai bentuk bahasa yang paling sempurna.

B.    Fungsi Bahasa Baku

Selain fungsi penggunaannya untuk situasi-situasi resmi, ragam bahasa baku menurut Grafin Mathiot (1956: 785-787) juga mempunyai fungsi lain yang bersifat sosial politik, yaitu:
1.    Fungsi pemersatu
2.    Fungsi pemisah
3.    Fungsi harga diri
4.    Fungsi kerangka acuan
Keempat fungsi itu akan dapat dilakukan oleh sebuah ragam bahasa baku kalau ragam bahasa baku itu telah memiliki tiga ciri yang sangat penting, yaitu:
1.    Memiliki ciri kemantapan yang dinamis
2.    Memiliki ciri kecendekiawan
3.    Memiliki ciri kerasionalan
Ketiga ciri ini bukan merupakan sesuatu yang sudah tersedia di dalam kode bahasa itu, melainkan harus diusahakan keberadaannya melalui usaha yang terus menerus yang harus dilakukan dan yang tidak terlepas dari rangkaian kegiatan perencanaan bahasa.

C.    Pemilihan Ragam Baku

Moeliono (1975: 2) mengatakan bahwa pada umumnya yang layak dianggap baku ialah ujaran atau tulisan yang tidak dipakai oleh golongan masyarakat yang paling luas pengaruhnya dan paling besar kewibawaannya. Termasuk di dalmmnya para pejabat negara, para guru, warga media massa, alim ulam, dan cendekiawan.

Sebenarnya banyak dasar atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan atau memilih sebuah ragam menjadi ragam bahasa baku. Dasar atau criteria itu, antara lain:
1.    Otoritas
2.    Bahasa penulis-penulis terkenal
3.    Demokrasi
4.    Logika
5.    Bahasa orang-orang yang dianggap terkemuka dalam masyarakat
Dewasa ini otoritas untuk pembakuan bahasa Indonesia ada pada Lembaga Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Maka dalam proses pembakuan bahasa Indonesia sudah seharusnya lembaga ini mencari dan mengumpulkan data (yang diambil dari orang-orang terkemuka) menganalisis, mengatur, dan menyusun kaidah-kaidah lalu menyesuaikannya kepada masyarakat luas. Usaha pembakuan bahasa, sebagai salah satu usaha pembinaan dan pengembangan bahasa, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai sarana, antara lain:

1.    Pendidikan
2.    Industri baku
3.    Perpustakaan
4.    Administrasi Negara
5.    Media massa
6.    Tenaga
7.    Penelitian

D.    Bahasa Indonesia Baku

Andaikata kita telah memilih salah satu ragam bahasa Indonesia untuk dijadikan ragam bahasa baku, dan mengolahnya agara ragam tersebut memiliki cirri kemantapan yang dinamis, memiliki cirri kecendekiaan, dan memiliki ciri kerasionalan, maka tindakan pembakuan itu harus dikenakan kepada semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik. Tentunya proses pengolahan itu harus dilakukan terus-menerus selama bahasa itu dilakukan.

Secara resmi fonem-fonem bahasa Indonesia telah ditentukan keberadaannya tetapi mengenai lafalnya atau ucapannya belum pernah dilakukan pembakuan. Namu, ada semacam konsensus yang rumusannya berbentuk negatif, bahwa yang disebut lafal bahasa Indonesia yang benar adalah lafal yang tidak lagi menampakkan ciri-ciri bahasa daerah. Pembakuan dalam bidang ejaan telah selesai dilakukan untuk bahasa Indonesia. Pembakuan ejaan ini telah melewati proses yang cukup panjang. Dimulai dengan ditetapkannya ejaan Van Ophusyen (Ejaan Balai Pustaka) pada tahun 1901, dilanjutkan dengan perbaikannya yang disebut ejaan Suwandi atau ejaan Republik pada tahun 1947 ; lalu diteruskan dengan penyemprnaanya dengan ditetapkannya ejaan bahasa Indonesia (EYD) pada tahun 1972 (dan revisinya pada tahun 1988) yang agak menarik adalah bahwa EYD juga berlaku untuk bahasa Malaysia dan bahasa Melayu di Brunai Darusalam.

Pembakuan dalam bidang tata bahasa juga sudaj diloakukan yakni dengan telah diterbitkannya buku tata bahasa yang diberi nama Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Meskiun masih  banyak kritik dilancarkan terhadap buku tersebut, yang barag kali karena persepsi dan teori ketatabahasaan yang diant, kehadiran buku tersebut sebagai upaya dalam pembakuan tata bahasa merupakan sesuatu yang sangat berharga.

»»  Baca Selengkapnya...

TIPOLOGI CERITA BERGENRE FANTASI

Fantasi merupakan sesuatu yang  berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi. Fantasi bisa juga merupakan sebuah genre yang menggunakan bentuk sihir dan supranatural sebagai salah satu elemen plot, tema dan seting dalam sebuah film ataupun dalam sebuah buku. Genre fantasi secara umum dibedakan dengan genre sains fiksi yang lebih bertemakan ilmiah dan horor tentang hal yang mengerikan. Kalau dilihat dari pengelompokkan jenis fiksi, fantasi bercerita tentang segala hal yang tak masuk akal. Sihir, makhluk-makhluk dongeng, dunia lain, dan sebagainya. Biasanya itulah yang diketahui masyarakat awam tentang fantasi. Beberapa buku fantasi terkenal menyuguhkan sihir dan hal-hal supranatural untuk pembacanya. Dunia lain, makhluk lain, benda-benda ajaib. Ide mungkin saja sama, tapi unsur-unsur yang membentuk cerita memiliki perbedaan.
Cerita-cerita yang bergenre fantasi selalu dianggap sebagai cerita-cerita yang tidak masuk akal karena bergelut dengan dunia khayal. Anak-anak, remaja, bahkan orang yang sudah berumur lanjut pun selalu senantiasa aktif didalamnya, mereka semua selalu dihadapkan oleh segala sesuatu mulai dari yang bersifat ekstrim sampai yang bersifat jenaka atau suatu pertualangan yang luar biasa. Kesan tersebut segera timbul dengan hanya melihat sampulnya yang selalu menampilkan wajah anak-anak ataupun orang dewasa dengan latar dekotatif dalam warna-warna ceria dan keseriusan. Tokoh-tokoh dalam cerita genre fantasi adalah seorang yang biasa menjadi seorang yang luar biasa, dimana mereka semua mengalami sesuatu hal yang dapat mengubah hidup dengan sekejap dan tidak dapat dipikirkan oleh nalar manusia. Dalam erita genre fantasi setiap orang berhakmenentukan dunianya sendiri-sendiri, tapi walau begitu biasanta dunia fantasi itu digabung dengan ciri dunia nyata dengan mengambil unsure-unsur budaya atau bahkan sebagian potongan setting dunia nyata. Nama mereka juga “imajinatif dan trendi” seperti Arriman, Belladonna, Madame Olympia, Anand, Nisha, Adel, Johanna, Felicia. Mereka adalah pria dan wanita yang memiliki kecenderungan sifat yang seenaknya dengan keadaan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari yang di latar belakangi oleh kemampuan yang mereka miliki, tetapi disamping itu semua mereka juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang kadang terlepas dari pikiran mereka. Hidup mereka beredar di dunia imajinatif dan juga dunia nyata, dipotong dengan dialog-dialog dan metafor-metafor yang yang di pengaruhi oleh dunia fantasi namun tetap segar, kadang-kadang kocak, serius, dan cerdas, khas kelompok sosial mereka, serta dikemas dalam bentuk yang terus menerus berfantasi, perjalanan, hewan peliharaan, kekuatan, kecerdasan, kebaikan, pedang, sihir, dan apa saja. Dengan selipan-selipan kebiasaan di dunia nyata dengan dunia fantasi (jika dibandingkan dengan teenlit), tetapi tetap menarik.
Namun di balik semua itu sebenarnya dunia yang digambarkan mempunyai masalah-masalah yang khas, yang kadang bertentangan dengan keinginan mereka. Mereka juga memiliki nilai-nilai tertentu yang tak terpisahkan dengan dunia mereka. Tulisan ini merupaka suatu bentuk usaha yang akan menangkap “ keimajinasian” dunia itu, didasarkan atas tiga buah karya fiksi (novel dan teenlit) yang telah dipilih secara khusus, karena ternyata cerita genre fantasi memperlihatkan dan hendak membuat kita untuk berfikir sejenak mengenai model dunia-dunia yang kita inginkan dengan tipe-tipe yang berbeda. Dalam tipologisasi yang sederhana, setidaknya ada cerita genre fantasi yang menampilkan orang dewasa dan anak-anak pemberani yang cekatan dan memiliki kepintaran, cenderung menekankan pakaian yang biasa-biasa saja namun ada juga yang memakai pakaian yang glamour, ada pula yang menampilkan orang dewasa dan anak-anak yang supranatural dengan pakaian yang ekstrim, kebanyakan cerita genre fantasi tidak mempersoalkan masalah agama, oleh karena itu cerita genre fantasi sangat banyak diminati oleh kebanyakan orang. Ketiga buku fiksi yang dipilih, Which Witch?(Penyihihir Mencari Istri),The Conch Bearer (Keong Ajaib), Nocturnal  dapat dimasukkan dalam tipe yang pertama, dan semua tokohnya sekitar 10 sampai 30 tahun. Sebenarnya erita fiksi genre fantasi tersebut banyak memperlihatkan pengaruh dari fiksi cerita genre fantasi yang berasal dari inggris dan India, tetapi penelitian sederhana ini secara khusus hanya akan melihat berbagai nilai-nilai yang ada didalamnya, yang menyangkut keseluruhan aspek naratif dan narasinya.
 
Alur
    Alur dalam cerita fiksi genre fantasi sebenarnya bermacam-macam, danjuga memilki daya tarik dan nilai imajinasi masing-masing dalam hal detil atau rangkaian katalisnya. Namun, secara garis besar, pola umumnya adalah demikian: seorang wanita tidak mengetahui jati dirinya, atau sebaliknya (dalam beberapa cerita fiksi genre fantasi tertentu), dipengaruhi oleh rasa keingintahuan akhirnya mereka terjebak dalam dunia lain,  dipilih sebagai orang pilihan yang mengemban tugas demi kelangsungan hidup orang banyak, dipengaruhi oleh ilmu sihir, atau orang yang sudah digariskan dalam keturunannya. Dalam Which Witch?, Arriman lahir dengan pengaruh ilmu sihir yang menjadikannya sebagai penyihir utara yang disegani oleh banyak orang. Dalam The Conch Bearer, Anand menjadi anak pilihan yang diberi tugas untuk membawa keong ajaib ke lembah rahasia yang berada dipegunungan Himalaya guna untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari ancaman si pencuri keong. Yang lebih khas adalah ketidaktahuan Adel mengenai garis keturunannya yang menuntut ia untuk berubah seratus persen dari kehidupan nyatanya dalam Nocturnal.variasi kisah fantasi yang menimbulkan imajinasi-imajinasi bisa lebih banyak lagi, apalagi rumitannya, tetapi secara keseluruhan pola umum tersebut selalu hadir. Itulah salah sati konvensi genre yang bersangkutan dalam hal-hal fantasi. Alur yang demikian berkaitan dengan tema utama dan nilai-nilai yang dipegang oleh para tokohnya.
    Unsur tokoh dalam cerita fiksi genre fantasi, yang juga dalam satu segi terikat pada imajinatif, lebih menarik, dan bagi banyak pembaca mungkin paling menarik. Hal itu bisa diketahui dari dari komentar-komentar yang sering dicantumkan dalam halaman-halaman pengantar atau halaman-halaman akhir novel ataupun teenlit tersebut. Pembahasan lebih banyak akan dipusatkan pada tokoh.
    Sebagaimana digambarkan di atas mereka adalah tokoh-tokoh yang mempunyai tanggungjawab yang amat besar, baik dalam keluarga maupun untuk keluarga dan orang banyak. Ada beberapa ciri yang menonjol dalam tokoh yang patut dibahas.

Kesederhanaan

    Tokoh-tokoh cerita fiksi genre fantasi, terutama tokoh utamanya, mempunyai batas kalangan yang berbeda-beda, mulai dari kalangan atas, menengah sampai dengan rendah. Namun, kesemuanya itu dipertemukan oleh satu kasamaan yakni adanya rasa kesederhanaan yang timbul dari tokoh- tokoh utama. Pada kalangan rendah, kesederhanaan muncul dari keadaan yang diterimanya. Anand  berbaring di karung tidur dalam gubuk satu kamarnya (The Conch Bearer:54). Pada kehidupan kalangan atas kesederhanaan juga terjalin didalamnya.
    Mereka adalah tokoh-tokoh yang mampu menyelesaikan dan mengatasi masalah yang datang menghadang mereka. Kebijaksanaan juga menjadi contoh dari tokoh utama cerita fiksi genre fantasi. Pilihan Anand “sekarang kau memilih untuk mengorbankan begitu banyak demi bergabung bersama kami, dan kami juga menghargai itu”( The Conch Bearer:264). Pilihan Adel “yah, aku memilih untuk menyelamatkan ibuku” (Nocturnal:169). Fiksi fantasi Whih Witch? Hadir dengan dunia fantasi sebagai seorang penyihir hitam tapi memilki sifat-sifat buruk sekalian baik. Kesederhanaan dalam cerita fantasi sihir hadir pada saat Arriman mau menerima Belladonna untuk menjadi istrinya, padahal bidang sihir mereka berbeda seratus derajat karena Arriman adalah si penyihir hitam sedangkan Belladonna adalah seorang yang memilki kemampuan sihir putih.
Sifat yang cenderung kontradiktif
    Tokoh-tokoh dalam ketiga cerita fiksi genre fantasi yang di analisis sangat hidup meskipun ditampilkan dalam dunia khayal. Mereka aktif dalam segala hal, dalam kehidupan sehari-hari sebagai pekerja, berpenampilan, serta sikap. Tetapi dilain pihak mereka bersifat konservatif. Meskipun tokoh-tokoh utamanya pertama-tama menolak tapi pada akhirnya selalua muncul ungkapan atau bayangan yang membuat tokoh- tokoh tersebut bertindak. Bahasa yang digunakan dalam cerita genre fantasi sama dengan cerita-cerita dalam genre chick lit yang tidak melanggar tabu-tabu bahasa, baik itu dalam novel maupun dalam teenlit.
    Dalam Nocturnal, sifat tokoh utama cenderung kontradiktif terhadap kehidupan normalnya, Adel dalam dunia nyata memiliki sifat yang cenderung lembut, itu terlihat pada kesukaannya terhadap balet bahkan Adel juga memiliki impian ingin menjadi seorang ballerina professional. Namun, impiannya tersebut buyar saat mengetahui bahwa ia adalah keturunan manusia setengah kucing dan dunia baru pun siap untuk menantinya. Pada novel The Conch Bearer, hal serupa juga terjadi pada kehidupan Anand, seorang anak laki-laki yang berumur 12 tahun yang bekerja sebagai tukang cuci piring disebuah rumah makan. Tapi keadaannya mulai berubah saat kedatangan seorang pria tua yang memintanya untuk membawa keong ajaib. Peristiwa itulah yang membuatnya berbeda dengan keadaan sebelumnya, dimana ia hanya seorang anak kecil yang rapuh tapi akhirnya menjadi seorang anak yang penuh tanggung jawab, berbeda dengan cerita fantasi yang lebih memicu adrenalin, pada cerita genre fantasi lainnya yakni dunia sihir yang terlihat pada novel Whih Witch?, didalamnya juga terlihat adanya perubahan sikap yang kontradiktif meskipun sedikit. Arriman si penyihir hitam yang arogan dan kejam sedikit demi sedikit mulai berubah karena adanya seorang calon istri yang dinantinya yakni Belladonna. Semuanya itu menjadikan cerita-cerita fiksi yang bergenre fantasi lebih fariatif dan menarik.
    Kepemimpinan adalah ciri yang paling menonjol dari ketiga cerita fiksi genre fantasi yang dianalisis di atas. Dalam novel  The Conch Bearer, Anand secara tidak langsung menjadi pemimpin dalam perjalanannya menuju lembah rahasia. Dalam teenlit Nocturnal, Adel menjadi pemimpin para nocturnal dan menjadi seorang baroness dan kepemimpinannya tersebut disambut baik oleh para keluarganya. Begitu pula pada novel Whih Witch?, Arriman menjadi pemimpin darisemua penyihir-penyihir hitam yang ada di tempatnya. Kepemimpinan mereka juga sering bertolak belakang dengan perasaan tidak lengkap tanpa kehadiran orang yang di sayangi.
Tema
    Ada beberapa tema yang menonjol yang secara merata muncul dalam novel dan teenlit tersebut yaitu profesi, cinta dan persahabatan.
    Tema profesi berubah-ubah dalam ketiga cerita fiksi genre fantasi, ketiga erita fiksi tersebut menampilkan tokoh yang bekerja dan bab-bab tertentu menggambarkan kegiatan mereka dalam pekerjaan atau profesi masing-masing, Anand adalah pelayan sekaligus tukang cuci piring dan gelas di kedai the, Adelia adalah seorang yang menekuni bidang ballerina, sedang Arriman adalah seworang penyihir hitam dengan julukan penyihir utara. Dari semua profesi-profesi yang telah disebut di atas, dalam cerita fiksi genre fantasi berubah-ubah menjadi sebaliknya. Terlihat pada Anand, yang akhirnya berpindah profesi sebagai seorang penyembuh yang bertugas menjaga keong ajaib. Adelia berubah dari yang tadinya seorang ballerina yang ayu gemulai, menjadi pemimpin atausang Baroness yang bijaksana. Sedang Arriman tetap dengan profesinya sebagai seorang penyihir . harus dicatat pula bahwa pekerjaan yang mereka geluti merupakan hal yang lumrah dalam dunia khayal dan imajinasi.
    Dalam cerita-cerita genre fantasi, tema cinta tidak terlalu banyak digunakan, tapi lebih diperlihatkan rasa kekeluargaan. Dalam Nocturnal, adelia sempat simpatik terhadap sepupunya Roland namun pada akhirnya ia  membuyarkan perasaannya itu demi untuk keluarganya karena Roland aalah seorang pengkhianat. Dalam Whih Witch?, cinta muncul dalam hati Arriman ketika melihat kecantikan Belladonna. Sedang dalam The Conch Bearer, Anand masih terlalu kecil untuk mengenal adanya rasa cinta, yang terjadi hanyalah kuatnya rasa saling menjaga antara satu sama lainnya.
    Tema persahabatan dalam cerita-cerita genre fantasi di atas sangat kuat sekali. Adel sangat merasa kehilangan bila harus berpisah dengan para sahabatnya Safina dan Teddy (Noturnal: 31). Anand dan Anisha saling menjaga sati sama lain meskipun banyak ketidakcocokkan pada kedua anak itu, tapi itu semua tidak mengurang rasa saying antar sahabat (The Conch Bearer:79-80). Sedang dalam Whih Witch?, karena berlatarkan dunia sihir, jadi rasa paersahabatan yang muncul tidak terlalu mencolok.  

Kesimpulan

    Tokoh-tokoh utama dari cerita genre fantasi masing-masing memiliki kemampuan tersendiri yang hadir dengan sengaja atau dengan tidak sengaja. Dari tema- tema yang menonjol yang telah diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa ada suatu keseriusan dalam diri mereka meskipun keseriusan itu hadir hadir terlambat. Dalam dunia fantasi semua hal bisa terjadi, baik yang berlebihan menurut pikiran kita maupun peristiwa-peristiwa yang janggal menurut kita.
    Namun dari itu semua, kita diberikan kesegaran pikiran dan boleh jadi kita berkhayal mengenai dunia-dunia khayal tersebui setelah membacanya dan itutidak disalahkan karena memang perlu adanya suatu dunia sendiri untuk mewakili apa yang kita ingin tuangkan dalam karya kita, meskipun pikiran-pikiran kita tidak sejalan denganyang ada di dunia nyata.
    Saya beranggapan cerita-cerita yang bergenre fantasi mempunyai nilai-nilai tersendiri, tidak terkecuali samua kalangan. Genre ini mempunyai segi imajinasi yang sangat tinggi dan hidup manusia jadi lebih berwarna dari khayalan dan imajinasi mereka.

Daftar Pustaka
Ibbotson, Eva. 2002.Whih Witch?. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Divakaruni, Chitra Banerjee. 2004.The Conch Bearer(Keong Ajaib). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Chusfani, Poppy D. 2008. Noturnal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
»»  Baca Selengkapnya...